TRENDING
MENU

Es Sop Buah Segar: Ketika Nilai Tenaga Kerja Lansia Dianggap Nol demi Menutup Biaya Operasional

4 menit membaca
eed Babel Ekspos
Editorial - 22 Mei 2026

BABELEKSPOS.COM – Di tengah riuhnya pusat Kota Pangkalpinang, tepatnya di Jalan Merdeka No.184, sebuah gerobak es sop buah sederhana berdiri tanpa dekorasi mewah ataupun promosi yang memadai. Usaha yang dijalankan oleh Ibu Dahlia (72) bersama suaminya (73) ini telah bertahan selama kurang lebih 15 tahun. Bagi sebagian orang yang melintas, bertahannya usaha ini mungkin dilihat sebagai simbol ketangguhan. Namun jika kita melihat lebih dekat, kisah perantau asal Palembang ini adalah potret nyata bagaimana pelaku UMKM tradisional harus bertarung setiap hari dengan ketidakpastian yang sering kali tidak berpihak pada mereka.

Menariknya, musuh terbesar usaha mikro seperti ini bukanlah persaingan pasar yang ketat atau lokasi jualan yang kurang strategis. Musuh terbesar mereka adalah sesuatu yang sama sekali tidak bisa dikendalikan, yaitu cuaca. Ibu Dahlia bercerita, jika hujan turun dan dagangan belum habis hingga pukul tiga sore, seluruh sisa buah yang sudah dipotong sejak pagi terpaksa harus dibuang karena sudah tidak segar lagi.

Di sinilah letak kerentanan bisnis kuliner tradisional yang berbasis bahan segar. Bagi pedagang besar, kehilangan sebagian bahan baku mungkin bisa ditutupi oleh cadangan kas. Namun bagi pedagang kecil seperti Ibu Dahlia, membuang buah potong berarti membuang modal yang sudah dikeluarkan di awal hari. Hari yang basah oleh hujan bukan hanya menurunkan omset, tetapi juga menyisakan kerugian nyata dari bahan baku yang terbuang sia-sia.

Situasi ini kian pelik ketika harga kebutuhan pokok terus merangkak naik. Mulai dari buah-buahan hingga kantong plastik, semua biaya operasionalnya semakin mencekik. Di tengah himpitan itu, Ibu Dahlia tetap menjalankan usaha dengan cara yang jujur, beliau memilih menyesuaikan harga jual tanpa sedikit pun mengurangi porsi es buah yang diberikan kepada pelanggan. Langkah ini memang berhasil menjaga kepercayaan dan kesetiaan pembeli, tetapi di sisi lain, margin keuntungan yang mereka bawa pulang tentu semakin menipis.

Ada satu hal yang sering kali luput dari perhatian kita saat melihat usaha yang dikelola secara mandiri oleh sepasang lansia ini, yaitu nilai dari tenaga kerja mereka. Di usia yang sudah senja, tenaga fisik yang dicurahkan oleh Ibu Dahlia dan suaminya setiap hari seolah dianggap “gratis” demi menutupi biaya operasional lain, seperti membayar kontrakan dan mencukupi kebutuhan pokok. Jika keringat dan waktu mereka dihitung secara profesional, keuntungan bersih dari usaha ini sebenarnya sangat kecil, atau bahkan sering kali impas. Mereka bertahan bukan karena usaha ini selalu menghasilkan laba yang besar, melainkan karena tidak ada pilihan lain untuk menyambung hidup.

Agar usaha es buah Ibu D dan pelaku UMKM sejenis di Pangkalpinang tidak sekadar bertahan dalam kerapuhan, perlu ada sedikit perubahan strategi yang adaptif namun tetap sederhana:

Sistem Potong Bertahap

Alih-alih memotong semua pasokan buah di pagi hari, pedagang bisa menyesuaikan jumlah potongan secara bertahap dengan melihat situasi keramaian dan memantau prakiraan cuaca harian lewat ponsel. Langkah sederhana ini bisa menekan jumlah buah yang terbuang saat hujan tiba.

Pemanfaatan Bahan Baku Alternatif

Untuk menyiasati buah segar yang cepat rusak jika tidak habis terjual sebelum pukul tiga sore, pedagang bisa menambahkan bahan pelengkap yang tahan lama seperti jeli, kolang-kaling, agar-agar, atau cincau. Strategi ini membuat porsi es tetap melimpah dan menarik, sekaligus menekan risiko modal terbuang akibat buah yang rusak.

Penggunaan Ice Box Portable

Dibanding membiarkan buah terbuka di etalase, penggunaan ice box tertutup adalah solusi murah untuk menyimpan stok buah dan hanya mengeluarkannya sesuai pesanan. Langkah sederhana ini efektif memperpanjang umur simpan buah hingga sore hari sekaligus mencegah kerugian akibat buah layu.

Pemasaran Lewat Pelanggan

Karena faktor usia membuat Ibu Dahlia keterbatasan dalam mengoperasikan teknologi digital, promosi digital bisa dibantu oleh pembeli. Pelanggan seperti mahasiswa atau pekerja kantoran yang datang bisa diajak secara langsung untuk memposting es buah ini ke media sosial mereka. Ulasan sukarela dari konsumen di internet ini akan membuat dagangan Ibu Dahlia makin dikenal luas tanpa mengharuskan beliau menyentuh ponsel pintar.

Kisah Ibu Dahlia mengingatkan kita bahwa UMKM tradisional adalah urat nadi ekonomi lokal yang diam-diam menjadi penopang hidup masyarakat luas. Memahami pengelolaan risiko dan efisiensi bahan baku bukan hanya menjadi ranah bisnis skala besar. Bagi sepasang lansia di Jalan No.184 Merdeka, hal-hal praktis seperti itu adalah penentu utama apakah dapur mereka akan tetap mengepul esok hari. Sudah saatnya pemerintah daerah maupun akademisi turun tangan memberikan pendampingan yang menyentuh akar rumput, agar usaha-usaha kecil ini tidak layu digilas zaman.

 

Oleh Kelompok 4:

Serlyta

Hasti Dewi Asih

Iren Ajeng

Hengky Sanjaya

Jason Hanvelyn

Olivia Anjelina

Mahasiswa Universitas Bangka Belitung

Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Program Studi S1 Manajemen

Bagikan Disalin