Foto Ilustrasi. (Sumber: Net) BABELEKSPOS.COM – Di era digital saat ini, tontonan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan anak-anak. Banyak orang tua memilih tayangan populer seperti Cocomelon karena dianggap edukatif dan mampu membuat anak tenang. Warna cerah, lagu berulang, serta animasi yang menarik memang efektif menarik perhatian anak. Namun, di balik itu, muncul kekhawatiran terkait dampak overstimulasi terhadap perkembangan mereka.
Tayangan dengan stimulasi tinggi biasanya memiliki ciri seperti pergantian adegan yang sangat cepat, suara yang ramai, serta visual yang mencolok. Dalam jangka waktu tertentu, hal ini dapat membuat anak terbiasa dengan rangsangan instan. Dampaknya, anak menjadi lebih sulit fokus, mudah bosan terhadap aktivitas yang lebih tenang, bahkan cenderung bergantung pada layar untuk mendapatkan hiburan. Kondisi ini tentu perlu menjadi perhatian, terutama pada masa golden age perkembangan anak.
Sebagai alternatif, muncul konsep tontonan low stimulation. Tayangan jenis ini cenderung memiliki alur cerita yang lebih lambat, visual yang lembut, serta suara yang tidak berlebihan. Dengan ritme yang lebih tenang, anak dapat memproses informasi secara lebih baik. Selain itu, tontonan ini memberi ruang bagi anak untuk berpikir, berimajinasi, dan memahami emosi secara bertahap, bukan sekadar menerima rangsangan cepat.
Berikut ini beberapa rekomendasi tontonan untuk anak-anak yang bisa kalian telusuri di laman YouTube:
1. Bing Bunny
– Cerita tentang keseharian yang ringan dan mengajarkan nilai nilai moral keseharian seperti berbagi, tolong menolong, & antri. Bahasa yang digunakan juga cenderung baku dan menambah kosakata baru untuk anak.
2. Bluey
– Kartun bertemakan keluarga anjing lucu ini beberapa episode pacenya tidak terlalu cepat dan terkesan lebih hangat, ceritanya realistis dan ga bikin anak overstimulasi.
3. Kinderflix
– Mr. Rachel nya Indonesia nih! Cocok untuk bayi yang masih di tahap tumbuh kembang karena berisikan pembelajaran kemampuan motorik, berbicara dan juga pengenalan interaktif lainnya lewat melodi lagu yang pastinya akan menarik untuk mereka.
Jika dilihat dari perspektif sosiologi, tontonan anak merupakan bagian dari proses sosialisasi, yaitu proses di mana individu belajar nilai, norma, dan pola perilaku dari lingkungan sekitarnya. Media, termasuk tontonan, berperan sebagai agen sosialisasi selain keluarga dan sekolah. Tayangan dengan stimulasi tinggi berpotensi membentuk kebiasaan instan dan kurang sabar, sedangkan tontonan yang lebih tenang dapat membantu membentuk karakter anak yang lebih fokus, sabar, dan peka terhadap lingkungan.
Selain itu, pilihan tontonan juga berkaitan dengan peran keluarga dalam membentuk pola perilaku anak. Orang tua tidak hanya berfungsi sebagai pemberi akses, tetapi juga sebagai pengarah dalam memilih konten yang sesuai. Dalam konteks ini, pemilihan tontonan low stimulation dapat menjadi bentuk kontrol sosial yang positif, yaitu upaya mengarahkan perilaku anak agar berkembang secara sehat sesuai nilai yang diharapkan masyarakat.
Pada akhirnya, screen time bukanlah hal yang sepenuhnya buruk, selama dikelola dengan bijak. Memilih tontonan yang lebih tenang dan sesuai usia bukan hanya berdampak pada perkembangan individu anak, tetapi juga pada pembentukan karakter generasi di masa depan. Dengan demikian, kesadaran orang tua dalam memilih tontonan menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan sosial yang sehat bagi anak sejak dini.
Sumber: Firyal Azmi Nailah
NIM: 5112511052
Mata Kuliah: Teknik Penulisan dan Publikasi Ilmiah
Dosen Pengampu:
1. Yudis Septiawan, M.Si.
2. Hidayati, S.Pd., M.Si.
Program Studi: S1 Sosiologi
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Bangka Belitung