
BABELEKSPOS.COM – Beberapa tahun terakhir, makin banyak mahasiswa yang mulai berani buka usaha sendiri, baik itu karena tuntutan tugas kuliah atau inisiatif mereka sendiri. Ada yang jual makanan, minuman, sampai produk kreatif yang unik. Semangatnya bagus, idenya menarik, dan kadang produknya juga enak. Tapi ternyata, punya produk bagus belum tentu bikin usaha bisa jalan mulus.
Dari sebuah usaha kuliner mahasiswa yang kami pelajari, ada satu pelajaran penting yang cukup menampar yaitu masalah terbesar usaha kecil kadang bukan soal kurang pelanggan, melainkan cara mengatur biaya yang belum tepat, ditambah keterbatasan modal yang sering jadi tantangan usaha kecil.
Usaha yang kami pelajari sebenarnya bermula dari sesuatu yang sederhana, yaitu tugas mata kuliah. Awalnya, usaha ini dibuat hanya untuk memenuhi kebutuhan perkuliahan. Namun di luar dugaan, respons konsumen ternyata cukup bagus dan permintaan mulai meningkat. Dari situ, pemilik usaha mulai melihat peluang untuk mengembangkan bisnisnya secara lebih serius. Produk yang awalnya terbatas kemudian mulai berkembang lewat berbagai inovasi makanan dan minuman yang lebih menarik dan menyesuaikan selera mahasiswa sekitar kampus.
Masalah mulai muncul ketika urusan uang ternyata tidak benar-benar diperhatikan.
Sering kali pelaku usaha merasa bisnisnya aman hanya karena uang masih masuk tiap hari. Padahal, belum tentu uang yang masuk berarti benar-benar untung. Ada banyak pengeluaran kecil yang sering dianggap sepele, padahal diam-diam bikin keuntungan makin tipis.
Contohnya sederhana yaitu biaya listrik, air, gas, transportasi saat ikut bazar, sampai tenaga dan waktu pemilik usaha sendiri kadang tidak dihitung sebagai biaya. Akibatnya, keuntungan terlihat besar di catatan, tapi kenyataannya belum tentu sebesar itu.
Ibaratnya begini, kelihatannya dompet masih aman, tapi sebenarnya pengeluaran bocor di banyak tempat.
Kondisi seperti ini sebenarnya cukup sering terjadi pada usaha kecil, terutama yang masih dirintis sambil kuliah. Fokus pemilik usaha biasanya terbagi ke banyak hal, mulai dari tugas, organisasi, sampai kegiatan sehari-hari. Akibatnya, urusan mencatat pengeluaran sering dianggap bisa nanti saja. Padahal justru dari catatan sederhana itulah pemilik usaha bisa melihat apakah bisnisnya benar-benar menghasilkan keuntungan atau hanya terlihat ramai pembeli.
Tantangan lain muncul ketika harga bahan baku dan kemasan mulai naik. Dalam kasus usaha yang kami pelajari, biaya kemasan mengalami kenaikan cukup besar. Tapi demi menjaga pelanggan tetap membeli, harga jual tetap dipertahankan.
Sekilas keputusan itu terlihat masuk akal. Siapa juga yang mau kehilangan pelanggan? Apalagi target pasarnya mahasiswa yang cukup sensitif soal harga. Tapi kalau biaya terus naik sementara harga tidak berubah, usaha lama-lama bisa kehabisan tenaga buat berkembang.
Di sinilah pelajaran pentingnya: bisnis tidak bisa cuma mengandalkan semangat dan rasa optimis. Mengelola uang juga sama pentingnya dengan membuat produk yang enak.
Banyak pelaku usaha kecil terlalu fokus cari pembeli sampai lupa mencatat pengeluaran. Padahal justru pengeluaran kecil yang sering bikin usaha diam-diam rugi. Tidak harus langsung pakai sistem ribet seperti perusahaan besar. Catatan sederhana di HP atau spreadsheet pun sebenarnya sudah cukup, asal konsisten.
Selain soal pencatatan, pelaku usaha juga perlu berani mengevaluasi harga jual. Kadang pemilik usaha terlalu takut pelanggan kabur kalau harga naik sedikit. Padahal kalau kualitas tetap bagus dan komunikasinya jelas, banyak pelanggan masih bisa memahami. Yang lebih berbahaya justru bertahan dengan harga lama sambil menanggung biaya yang terus naik sendirian.
Dari hasil pembahasan kelompok kami, ada beberapa hal yang menurut kami bisa membantu usaha seperti ini bertahan dan berkembang.
Pertama, mulai membuat pencatatan biaya yang lebih rapi. Semua pengeluaran, sekecil apa pun, perlu dicatat supaya pemilik usaha tahu sebenarnya uang habis di mana. Dengan begitu, keputusan bisnis tidak lagi berdasarkan perkiraan, tapi data nyata.
Kedua, usaha perlu lebih berani menyesuaikan strategi harga atau membuat paket produk agar tetap menarik tanpa terlalu menekan keuntungan. Misalnya dengan sistem bundling atau promo tertentu, jadi pelanggan tetap merasa untung tanpa usaha harus menanggung beban sendiri.
Ketiga, pemilik usaha perlu fokus pada produk yang paling menguntungkan. Tidak semua menu harus diprioritaskan sama besar. Kalau ada produk yang ternyata lebih sering dicari pembeli dan memberi keuntungan lebih besar, promosi dan tenaga sebaiknya lebih difokuskan ke sana agar usaha punya napas lebih panjang.
Selain itu, menurut kelompok kami, pemilik usaha juga perlu lebih selektif dalam memilih cara penjualan. Jangan sampai terlihat ramai saat ikut bazar atau event, tetapi setelah dihitung ternyata keuntungan justru habis untuk biaya transportasi, perlengkapan, atau kebutuhan lainnya. Karena itu, penting untuk mulai mempertimbangkan strategi penjualan yang lebih stabil agar pemasukan usaha tidak terlalu naik turun.
Pada akhirnya, usaha kecil memang penuh tantangan. Kadang bukan soal produk tidak laku, tapi soal salah hitung yang tidak disadari sejak awal. Dari kasus ini, kami belajar bahwa semangat berwirausaha memang penting, tetapi tidak bisa berjalan sendirian. Di balik usaha yang terlihat sederhana, ada angka-angka yang juga harus dipahami. Karena sering kali, yang membuat usaha berhenti bukan karena kurang pelanggan, melainkan karena pengelolaan biaya yang kurang diperhatikan.
Dosen Pengampu:
Willa Fatika Sari, S.E., M.M.
Penulis: Kelompok 2
– One Olivia Kusumawati (3022311079)
– Shadina Ningrum (3022311085)
– Sarmawati (3022311084)
– Trie Yunike (3022311029)
– Meisye Dhea Adhita (3022311065)
Program Studi Manajemen
Fakultas Manajemen dan Bisnis
Universitas Bangka Belitung.