Program Makan Bergizi Gratis: Bantuan yang Belum Menyentuh Mahasiswa

BABELEKSPOS.COM – Belakangan ini pemerintah sedang ramai membahas program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program ini dibuat untuk membantu anak-anak sekolah mendapatkan asupan gizi yang cukup agar bisa tumbuh sehat dan cerdas. Tujuan dari program ini tentu sangat baik, yaitu menekankan angka stunting dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Indonesia sejak usia dini. Namun di sisi lain, muncul beberapa pertanyaan dari kalangan mahasiswa: kenapa program ini tidak di salurkan ke mahasiswa juga?

Mahasiswa sebenarnya juga bagian dari genarasi muda yang sedang berjuang menempuh pendidikan. Banyak di antara kami yang hidup di kos, jauh dari keluarga, dan harus pintar-pintar mengatur uang saku bulanan, tak sedikit juga yang berasal dari keluarga yang kurang mampu, tapi tetap berusaha untuk berkuliah demi masa depan yang lebih baik, yang dimana kebanyakan dari kami hanya makan sekali atau dua kali sehari, atau bahkan hanya mengandalkan mie instan karena di anggap paling murah, hal ini di sebabkan oleh keterbatasannya biaya. Padahal kalau kebiasaan ini terus berlanjut bisa berdampak pada kesehatan dan semangat belajar.

Kalau pemerintah peduli terhadap pentingnya gizi bagi siswa sekolah, seharusnya hal yang sama juga diperlakukan untuk mahasiwa. Kebutuhan gizi tidak hanya berhenti saat seorang lulus SMA. mahasiwa tetap butuh energy dan nutrisi untuk berpikir, berkegiatan, dan menjalankan perkuliahan dengan baik. Apalagi mahasiswa termasuk kelompok usia produktif yang sedang membentuk kebiasaan hidup jangka panjang. Gizi yang buruk bisa berdampak besar pada produktivitas dan prestasi akademik mereka.

Selama ini, program MBG masih difokuskan untuk anak sekolah di tingkat dasar dan menengah. Padahal, mahasiwa juga punya peran penting sebagai calon tenaga kerja dan penerus bangsa. Banyak di antara mereka yang tidak mendapatkan dukungan ekonomi cukup, terutama bagi penerima beasiswa sepert KIP-K. Meskipun ada bantuan uang saku, jumlahnya sering kali tidak cukup untuk memenuhi semua kebutuhan, termasuk kebutuhan makanan bergizi setiap hari. Akibatnya, banyak mahasiswa yang memilih untuk menghemat uang makan demi keperluan kuliah lain seperti tugas, transportasi, atau biaya hidup sehari-hari.

Harusnya pemerintah bisa mempertimbangkan untuk memperluas program MBG hingga ke perguruan tinggi. Tidak harus dalam bentuk yang sama persis seperti di sekolah, tetapi bisaa dengan menyesuaikan kondsi mahasiswa. Misalnya, lewat kerja sama dengan pihak kampus untuk menyediakan kantin bergizi bersubsidi, program makan siang sehat bagi mahasiwa tidak mampu, atau voucher makanan bagi penerima beasiswa. Bentuknya bisa fleksibel, asal tujuannya jelas, membantu mahasiswa untuk tetap sehat dan bisa belajar dengan optimal.

Selain itu pihak kampus juga bisa berperan aktif. Kampus dapat membuat program pendampingan kesehatan mahasiswa, termasuk edukasi tentang pentingnya gizi seimbang dan pengelolaan keuangan. Banyak mahasiwa yang bukan tidak mau makan bergizi, tapi memang tidak tahu cara mengatur uang supaya cukup untuk makan sehat setiap hari. Jika kampus dan pemerintah bekerja sama, program MBG bisa benar-benar berdampak luas dan tidak hanya di tingkat sekolah.

Program Makan Bergizi Gratis sebenarnya bukan hanya soal memberi makan, tapi tentang membangun generasi yang sehat, cerdas, dan berdaya saing. Mahasiswa sebagai calon tenaga kerja dan pemimpin masa depan juga berhak mendapatkan perhatian yang sama. Dengan asupan gizi yang cukup, mahasiswa bisa lebih fokus belajar, lebih produktif, dan tentu lebih siap menghadapi dunia kerja nantinya.
Kalau pemerintah serius ingin mewujudkan visi Indonesia Emas 2045, maka peningkatan kualitas gizi tidak boleh berhenti di ruang kelas SD atau SMA saja. Mahasiwa juga bagian dari investasi sumber daya manusia jangka panjang. Sudah seharusnya mereka turut merasakan manfaat dari kebijakan ini. Karena bagaimana pun, Indonesia yang kuat di masa depan lahir dari generasi yang sehat, termasuk mahasiswanya.

Sebagai mahasiswa, kita tidak hanya berhak menuntut perubahan, tetapi juga harus ikut menyuarakan kebutuhan yang sering terabaikan. Program Makan Bergizi Gratis bisa menjadi awal yang baik untuk pemerataan kesejahteraan pendidikan jika dijalankan secara inklusif. Pemerintah, kampus, dan mahasiswa seharusnya dapat berjalan beriringan dalam mewujudkan hal itu. Karena pada akhirnya, keberhasilan sebuah kebijakan pendidikan tidak hanya di ukur dari seberapa banyak yang bisa sekolah, tetapi juga dari seberapa sehat dan layak hidup para pelajarnya.

 

Nama : M. Affandi
NIM: 5112511061
Mata Kuliah: Bahasa Indonesia.
Dosen Pengampu:
1. Uky Eji Anggara, S.Pd., M.Pd.
2. Wilda Afriani, S.S., M.Pd.
Program Studi: S1 Sosiologi
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Bangka Belitung

Tinggalkan Balasan