MENU

PLTN Kian Menguat di AS, Jadi Contoh Baseloader di Tengah Arah Baru Energi Indonesia

6 menit membaca
eed Babel Ekspos
Advertorial, Berita - 26 Jan 2026

BABELEKSPOS.COM, PANGKALPINANG – Komitmen negara bagian New York untuk mempertahankan energi nuklir kembali menegaskan satu pesan penting dalam transisi energi global: listrik bersih membutuhkan sumber daya andal yang mampu menopang sistem. Pada Kamis (22/1/2026).

New York State Public Service Commission (PSC) secara bulat memutuskan memperpanjang program subsidi bagi empat pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) yang masih beroperasi di wilayah tersebut. Kebijakan ini memastikan fasilitas nuklir tetap beroperasi hingga 2049 dan memperkuat peran nuklir sebagai tulang punggung pasokan listrik rendah emisi.

Keputusan PSC diambil di tengah meningkatnya kebutuhan listrik akibat elektrifikasi sektor industri, transportasi, dan ekspansi manufaktur berteknologi tinggi. Anggota PSC, Uchenna S. Bright, menegaskan bahwa nuklir masih menjadi elemen krusial dalam bauran energi New York.

“This is an important part of our energy mix, at a time when we need more generation, not less,” ujar Bright dalam rapat komisi, dikutip Times Union, Kamis (22/1/2026).

Sejak 2016, pemerintah negara bagian New York memberikan insentif finansial untuk menjaga keekonomian PLTN di tengah fluktuasi harga listrik dan tekanan kompetisi dari pembangkit gas alam. Rendahnya harga gas pada pertengahan 2010-an membuat sejumlah PLTN nyaris tutup, meskipun kontribusinya terhadap keandalan jaringan dan pengurangan emisi sangat signifikan.

Juru bicara Gubernur New York Kathy Hochul, Ken Lovett, menyatakan bahwa investasi pada nuklir merupakan strategi jangka panjang menghadapi perubahan iklim sekaligus menjaga stabilitas sistem kelistrikan.

“By investing in the nuclear power industry in New York we are creating a cleaner, more reliable and affordable electric grid that will benefit all New Yorkers for decades to come,” kata Lovett.

Empat PLTN tersebut saat ini menyuplai sekitar 20 persen kebutuhan listrik New York dan menjadi kontributor utama pencapaian target iklim dalam Climate Leadership and Community Protection Act. Berdasarkan keputusan PSC, pelanggan National Grid tercatat menyumbang sekitar US$61 juta per tahun untuk menopang operasional PLTN. Namun kajian The Brattle Group menunjukkan bahwa mempertahankan PLTN justru berpotensi menghemat hingga US$50 miliar bagi pelanggan selama 25 tahun ke depan, dibandingkan skenario penutupan dini dan penggantian dengan pembangkit fosil.

Operator fasilitas nuklir New York juga menegaskan bahwa keberlanjutan PLTN berperan penting dalam menjaga stabilitas harga listrik dan keandalan layanan.

“Operations indisputably remain necessary to shield New Yorkers from higher emissions, higher electric prices, price volatility, and potential service disruptions,” tulis operator dalam memorandum dukungan kepada PSC, dikutip Times Union.

Pengalaman pahit penutupan Indian Point Nuclear Power Plant pada 2021 menjadi pelajaran penting. Penutupan tersebut memicu lonjakan emisi karbon dan tekanan serius terhadap pasokan listrik wilayah metropolitan New York City. Operator sistem kelistrikan independen berulang kali memperingatkan bahwa kapasitas pembangkit yang keluar dari sistem lebih besar dibandingkan kapasitas baru yang masuk.

Meski sebagian kelompok lingkungan mengusulkan penghentian subsidi nuklir demi memberi ruang lebih luas bagi energi terbarukan, banyak pemangku kepentingan menilai transisi tanpa mempertahankan sumber listrik baseloader justru berisiko.

“Any serious plan to decarbonize the grid must preserve the largest clean energy assets we have,” tegas New York League of Conservation Voters.

Kebijakan New York menjadi refleksi tren global yang lebih luas. Di tengah ambisi net-zero emission dan lonjakan permintaan listrik, negara-negara maju kembali menempatkan energi nuklir sebagai pilar utama ketahanan energi. Perdebatan tidak lagi berkutat pada apakah nuklir dibutuhkan, melainkan bagaimana mengintegrasikannya secara aman, ekonomis, dan diterima publik.

Konteks ini relevan bagi Indonesia. Dengan konsumsi listrik per kapita sekitar 1.337 kWh, Indonesia masih tertinggal dibandingkan Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Sementara itu, lebih dari separuh pembangkit listrik nasional masih berbasis batu bara. Target pertumbuhan ekonomi agresif menuju Indonesia Emas 2045, termasuk target pertumbuhan 8 persen, mensyaratkan lonjakan kebutuhan listrik yang signifikan—tanpa mengorbankan komitmen iklim nasional.

Dalam dokumen RUPTL 2025–2034, pemerintah telah menetapkan kebijakan phase down batu bara. Artinya, sumber baseload baru yang bersih dan andal harus segera terhubung ke jaringan listrik nasional untuk menggantikan kapasitas yang akan dipensiunkan.

Pengalaman New York menunjukkan bahwa energi terbarukan dan nuklir bukanlah kompetitor, melainkan mitra strategis. Surya dan angin berperan penting, namun sifatnya yang intermiten menuntut kehadiran baseload yang stabil untuk menjaga keandalan sistem.

Dalam diskursus global tersebut, perhatian mulai beralih ke teknologi reaktor generasi baru. Salah satunya adalah konsep reaktor garam cair (Molten Salt Reactor/MSR) yang dikembangkan oleh Thorcon. Teknologi ini dirancang beroperasi pada tekanan rendah, mengedepankan keselamatan pasif, serta menawarkan efisiensi termal yang lebih tinggi dibanding PLTN konvensional.

Mengutip Kompas.com, CEO ThorCon International, Matt Wilkinson, menyebut bahwa tantangan utama nuklir bukan hanya keselamatan, tetapi juga biaya dan kecepatan pembangunan.

“If you can build me a gigawatt for the same price and speed as coal, we’ll talk,” ujarnya.

Pendekatan Thorcon menggabungkan teknologi MSR dengan metode manufaktur galangan kapal—sebuah model yang telah lama terbukti efisien dan presisi tinggi di industri maritim global. Alih-alih proyek konstruksi sipil yang memakan waktu bertahun-tahun, unit reaktor dirancang sebagai produk manufaktur yang dapat dibangun lebih cepat dan berulang.

Di Indonesia, PT Thorcon Power Indonesia telah sejak 2021 menjalani proses perizinan. Pada 2025, perusahaan ini memperoleh persetujuan Evaluasi Tapak dari BAPETEN untuk lokasi di Pulau Kelasa, Bangka Tengah. Persetujuan tersebut menjadi dasar untuk studi lanjutan sebelum pengajuan Izin Tapak, sesuai tahapan regulasi nasional.

Model pembangunan skala menengah dengan kapasitas sekitar 500 MW dinilai relevan bagi Indonesia, terutama untuk wilayah dengan keterbatasan sistem interkoneksi seperti Bangka Belitung. Daerah ini menghadapi tantangan harga listrik tinggi dan keterbatasan pasokan untuk mendukung industrialisasi, sementara opsi energi terbarukan berskala besar masih terkendala sifat intermiten dan biaya.

Isu keselamatan kerap menjadi sorotan publik dalam diskursus nuklir. Namun data global menunjukkan gambaran yang lebih objektif. Berdasarkan Our World in Data, tingkat kematian energi nuklir berada di sekitar 0,03 kematian per terawatt hour, lebih rendah dibandingkan batu bara, minyak, dan gas, serta sebanding dengan angin dan surya.

Fakta ini memperlihatkan bahwa risiko nuklir sering kali lebih bersifat persepsi daripada realitas statistik. Sejalan dengan itu, dalam COP28, negara-negara pengguna PLTN berkomitmen meningkatkan kapasitas nuklir hingga tiga kali lipat pada 2050.

Langkah New York juga sejalan dengan arahan Gubernur Hochul untuk mengembangkan pembangkit nuklir canggih bebas emisi.

“We must embrace an energy policy of abundance that centers on energy independence and supply chain security,” ujar Hochul, dikutip Times Union.

Perpanjangan subsidi PLTN di New York menegaskan bahwa transisi energi menuntut keseimbangan antara idealisme iklim dan kebutuhan teknis sistem kelistrikan. Bagi Indonesia, dinamika global ini menjadi referensi penting bahwa ketahanan energi dan dekarbonisasi tidak harus saling meniadakan. (rel) 

Bagikan Disalin