
BABELEKSPOS.COM, TANGERANG SELATAN – Humas BRIN. Kepala Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN) BRIN Syaiful Bakhri, menegaskan pentingnya integrasi program riset dengan agenda nasional serta penerapan manajemen risiko dalam setiap tahapan pelaksanaan kegiatan.
Ia menyampaikan bahwa program riset ORTN harus mampu memberikan dampak luas dan mendukung pengembangan ketenaganukliran di tingkat nasional maupun internasional.
“Program yang diusulkan perlu selaras dengan prioritas nasional dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, termasuk mendukung program pemerintah dan arah pembangunan nasional,” ujarnya saat membuka acara Internalisasi Program dan Kegiatan ORTN Tahun 2026 Dalam Rangka Implementasi Manajemen Risiko, pada Selasa (7/4/2026).
Dalam paparannya, Syaiful menyampaikan delapan agenda riset dan inovasi BRIN tahun 2026 yang mendukung prioritas nasional, dengan salah satu fokus pada pengembangan ketenaganukliran.
“Dalam periode 2025-2029, program tematik ORTN difokuskan pada riset dan inovasi di bidang medis dan industri, teknologi nuklir untuk energi, serta pengembangan radioisotop dan radiofarmaka,” jelasnya.
Syaiful juga menekankan pentingnya integrasi antara riset, infrastruktur, dan sumber daya manusia dalam mendukung penyelenggaraan ketenaganukliran.
“Ke depan, direncanakan pembentukan lembaga otonom sebagai badan pelaksana yang bertanggung jawab terhadap pengelolaan infrastruktur nuklir secara terintegrasi,” terangnya.
Sosialisasi manajemen risiko menjadi bagian penting dalam kegiatan ini, khususnya untuk mengidentifikasi potensi hambatan yang dapat memengaruhi pelaksanaan program riset, infrastruktur, dan penyelenggaraan ketenaganukliran secara keseluruhan.
Kegiatan ini turut menghadirkan narasumber dari Kementerian Koordinator Bidang Pangan dan Kementerian PPN/Bappenas untuk memperkuat keterkaitan program riset ORTN dengan kebijakan nasional.
Bara Krishna Hasibuan selaku Staf Ahli Menteri Bidang Transformasi Digital dan Hubungan Antar Lembaga Kemenko Pangan, menyoroti pentingnya pemanfaatan teknologi nuklir dalam mendukung ketahanan pangan nasional.
“Teknologi nuklir dapat berperan dalam pemuliaan varietas unggulan nasional, efisiensi input pertanian berkelanjutan, keamanan dan ketahanan pasca panen, pengelolaan sumber daya air dan lahan, serta pengendalian hama ramah lingkungan,” ujarnya.
Perwakilan Kementerian PPN/Bappenas Brian Pratistha menegaskan, teknologi nuklir dipandang sebagai enabler strategis untuk mendukung program nasional energi rendah karbon, kesehatan, dan ketahanan pangan sebagaimana tertuang dalam RPJMN 2025-2029.
“Di sektor energi, nuklir berperan dalam mendorong transisi menuju energi bersih melalui rencana pembangunan PLTN berbasis small modular reactor (SMR). Di bidang kesehatan, teknologi nuklir dimanfaatkan untuk diagnosis, terapi, serta produksi radioisotop dan radiofarmaka. Adapun di sektor pangan, pemanfaatan teknologi nuklir mencakup pemuliaan tanaman, pengendalian hama, dan peningkatan efisiensi dan kualitas produksi pertanian,” urainya.
Sebagai informasi, ORTN BRIN menyelenggarakan kegiatan internalisasi program dan kegiatan tahun 2026 dalam rangka implementasi manajemen risiko serta penguatan sinergi lintas sektor. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan penyelarasan program ORTN agar selaras dengan prioritas pembangunan nasional.
Kegiatan diawali dengan penandatanganan Perjanjian Kinerja Pusat Riset antara Kepala ORTN dengan para Kepala Pusat Riset sebagai bentuk komitmen terhadap pencapaian target organisasi.
Melalui kegiatan ini, ORTN BRIN diharapkan terus memperkuat kolaborasi dan sinergi lintas sektor serta mendekatkan hasil riset dan inovasi kepada masyarakat dan industri. Dengan demikian, inovasi yang dikembangkan dapat berdampak nyata bagi pembangunan nasional dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. (*)