
BABELEKSPOS.COM – Indonesia baru saja menorehkan “prestasi” yang tidak perlu dibanggakan: peringkat kedua dunia dalam lonjakan kasus campak, dengan 8.224 kasus suspek tercatat. Yang lebih menyakitkan, satu-satunya negara yang mengalahkan kita adalah Yaman – negara yang sedang hancur dilumat perang saudara. Yaman punya alasan. Kita tidak.
Campak bukan penyakit misterius tanpa solusi. Vaksinnya sudah ada sejak 1963, murah, dan terbukti efektif. Masalahnya bukan pada ketersediaan vaksin, melainkan pada kepercayaan yang runtuh dan distribusi yang timpang. Gerakan antivaksin tumbuh subur di media sosial pasca-pandemi, menyebar lebih cepat dari program imunisasi mana pun. Di saat yang sama, anak-anak di daerah terpencil bahkan tidak punya akses ke puskesmas terdekat. Dua masalah berbeda, satu hasil yang sama: anak-anak yang seharusnya terlindungi, jatuh sakit.

Foto Ilustrasi. (Sumber: Net)
Ini bukan bencana alam yang datang tiba-tiba. Ini akumulasi dari kelalaian yang kita biarkan bertahun-tahun — kebijakan kesehatan yang setengah hati, literasi publik yang tak dirawat, dan misinformasi yang dibiarkan tumbuh tanpa perlawanan serius. Pemerintah harus bergerak lebih dari sekadar imbauan, masyarakat harus berhenti menelan hoaks mentah-mentah, dan media harus berhenti memberi panggung pada narasi antivaksin. Karena pada akhirnya, setiap anak yang jatuh sakit hari ini adalah bukti bahwa kemarin kita tidak cukup peduli.
Sumber :
Sandika Wagindra
NIM : 5112511080
Mata Kuliah : Teknik Penulisan Dan Publikasi Ilmiah
Dosen Pengampu :
1. Yudi Septiawan, M.Si.
2. Hidayati, S.Pd., M.Si.
Program Studi : S1 Sosiologi
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Bangka Belitung