
BABELEKSPOS.COM – Di era digital saat ini, media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Setiap hari, kita disuguhkan berbagai aktivitas orang lain—mulai dari pencapaian, gaya hidup, hingga momen kebahagiaan. Tanpa disadari, hal tersebut memunculkan perasaan cemas yang dikenal sebagai FOMO (Fear of Missing Out), yaitu ketakutan akan tertinggal dari orang lain. Namun, pertanyaannya adalah: apakah FOMO benar-benar tentang takut tertinggal, atau sebenarnya tentang keinginan untuk diakui?
FOMO sering kali muncul ketika seseorang membandingkan dirinya dengan orang lain di media sosial. Melihat orang lain terlihat “lebih sukses”, “lebih bahagia”, atau “lebih produktif” dapat memicu rasa tidak cukup dalam diri. Padahal, apa yang ditampilkan di media sosial belum tentu mencerminkan realita sepenuhnya.
Lebih dalam lagi, FOMO bukan hanya soal takut ketinggalan tren atau pengalaman, tetapi juga berkaitan dengan kebutuhan akan pengakuan sosial. Banyak orang merasa perlu mengikuti apa yang sedang viral atau populer agar tetap dianggap relevan oleh lingkungannya. Hal ini membuat individu cenderung melakukan sesuatu bukan karena keinginan pribadi, melainkan demi validasi dari orang lain.
Selain itu, FOMO juga dapat berdampak pada kesehatan mental. Perasaan cemas, tidak percaya diri, hingga tekanan untuk selalu “update” dapat membuat seseorang kehilangan kenyamanan dalam menjalani hidupnya sendiri. Alih-alih menikmati proses, seseorang justru sibuk mengejar ekspektasi yang dibentuk oleh lingkungan digital.
Menurut saya, FOMO lebih banyak berkaitan dengan rasa ingin diakui daripada sekadar takut tertinggal. Di balik keinginan untuk selalu mengikuti tren, terdapat kebutuhan manusia untuk diterima dan dihargai oleh orang lain. Namun, jika hal ini terus dibiarkan, seseorang bisa kehilangan jati dirinya karena terlalu fokus pada penilaian orang lain.
Seharusnya, media sosial digunakan sebagai sarana berbagi dan berkomunikasi, bukan sebagai alat untuk mengukur nilai diri. Setiap individu memiliki jalan dan waktunya masing-masing, sehingga tidak perlu merasa tertinggal hanya karena tidak mengikuti apa yang sedang ramai.
FOMO adalah fenomena yang tidak bisa dihindari di era digital, tetapi dapat disikapi dengan bijak. Penting bagi kita untuk menyadari bahwa tidak semua yang terlihat di media sosial adalah kenyataan. Daripada terus membandingkan diri dengan orang lain, akan lebih baik jika kita fokus pada perkembangan diri sendiri. Dengan begitu, kita tidak hanya terhindar dari tekanan sosial, tetapi juga dapat menjalani hidup dengan lebih tenang dan autentik.
Penulis :
Ulfiyah Nazi Syabilah
NIM : 082175397883
Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Bangka Belitung