Proses penjemuran kemplang pada usaha Kemplang Merah Putih di Pangkal Pinang yang masih mengandalkan sinar matahari dalam proses produksinya.BABELEKSPOS.COM -Tidak semua perubahan usaha terjadi karena kegagalan. Kadang, perubahan justru menjadi cara bertahan ketika kondisi pasar sudah tidak lagi mendukung. Hal inilah yang terlihat pada perjalanan usaha Kemplang Merah Putih di Pangkal Pinang. Sebelumnya, usaha rumahan ini memproduksi kemplang ikan seperti banyak usaha tradisional lainnya di Bangka Belitung. Produksi berjalan normal dan penjualan cukup stabil. Namun seiring waktu, situasi mulai berubah. Harga bahan baku seperti ikan dan sagu terus mengalami kenaikan, sementara permintaan pasar tidak selalu stabil. Di sisi lain, risiko usaha juga semakin besar karena sistem penjualan yang digunakan masih berbentuk titipan di toko atau pasar. Jika barang tidak habis terjual, kerugian harus ditanggung sendiri oleh pemilik usaha.
Kondisi inilah yang akhirnya membuat pemilik usaha mengambil keputusan penting: beralih dari produksi kemplang ikan menjadi kemplang mentah yang kemudian dikenal dengan nama Kemplang Merah Putih. Keputusan ini bukan tanpa alasan. Dibandingkan kemplang ikan, produk kemplang mentah dianggap memiliki risiko yang lebih kecil. Setelah selesai diproduksi, barang bisa langsung dibawa distributor dan pembayaran diterima saat itu juga. Sistem ini membuat arus kas usaha menjadi lebih aman karena pemilik tidak perlu menunggu barang habis terjual terlebih dahulu.
Selain itu, usaha juga tidak lagi terlalu terbebani risiko barang rusak atau tidak laku di pasar. Dalam usaha makanan tradisional, risiko seperti ini sangat nyata. Apalagi proses produksi masih dilakukan secara tradisional dan sangat bergantung pada cuaca, terutama pada tahap penjemuran. Perubahan model usaha ini menunjukkan bahwa pelaku UMKM sebenarnya memiliki kemampuan beradaptasi yang tinggi. Ketika kondisi pasar berubah, mereka mencari cara agar usaha tetap berjalan meskipun harus mengubah produk utama yang dijual. Namun, bertahan di tengah perubahan ekonomi tetap bukan hal mudah.
Meski sudah beralih ke produk yang risikonya lebih rendah, usaha masih menghadapi tantangan lain seperti kenaikan harga bahan baku yang terus terjadi. Harga sagu dan bahan produksi lain semakin mahal, sementara daya beli pasar tidak selalu meningkat. Situasi seperti ini membuat banyak pelaku usaha berada di posisi sulit. Jika harga jual dinaikkan terlalu tinggi, pelanggan bisa berkurang. Tetapi jika harga tetap dipertahankan, keuntungan usaha menjadi semakin kecil.
Di sisi lain, penurunan permintaan pasar juga ikut memengaruhi produksi. Jika sebelumnya produksi bisa dilakukan beberapa kali dalam seminggu, kini jumlahnya jauh berkurang. Artinya, pemasukan usaha ikut menurun. Kondisi ini menunjukkan bahwa tantangan UMKM saat ini bukan hanya soal produksi, tetapi juga bagaimana menghadapi perubahan pasar yang semakin tidak menentu. Yang menarik, usaha seperti Kemplang Merah Putih sebenarnya mencerminkan kondisi banyak UMKM tradisional di Indonesia. Mereka tidak berhenti karena malas atau tidak mau berkembang, tetapi karena harus menghadapi tekanan biaya produksi yang terus naik sementara pasar belum tentu mendukung.
Karena itu, pembahasan tentang UMKM seharusnya tidak selalu fokus pada “kurangnya kemampuan usaha”. Dalam banyak kasus, pelaku usaha justru sudah berusaha beradaptasi semampunya. Mereka mengubah produk, mengurangi risiko, menyesuaikan produksi, hingga mencari sistem penjualan yang lebih aman agar usaha tetap bertahan. Pelajaran penting dari kasus ini adalah bahwa keberlangsungan UMKM sangat dipengaruhi oleh kemampuan menyesuaikan diri terhadap kondisi pasar. Kadang bertahan bukan berarti memperbesar usaha, tetapi memilih langkah yang lebih realistis agar usaha tetap hidup.
Di tengah naiknya harga bahan baku dan perubahan pola konsumsi masyarakat, fleksibilitas menjadi hal yang sangat penting bagi usaha kecil. UMKM yang mampu membaca kondisi pasar dan berani mengambil keputusan perubahan biasanya memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dibanding usaha yang tetap memaksakan cara lama.
Pada akhirnya, kisah Kemplang Merah Putih bukan hanya tentang perubahan produk dari kemplang ikan menjadi kemplang mentah. Lebih dari itu, ini adalah cerita tentang bagaimana usaha kecil mencoba tetap bertahan di tengah tekanan ekonomi yang terus berubah.
Kelompok 1 Manajemen Biaya:
1. Zhafirah Nuur Ulima
2. Triyana
3. Yogi Pratama
4. Wirena Nayala
5. Daniel Rafroditus Dewaputra Wau
Mahasiswa Universitas Bangka Belitung
Fakultas Ekonomi & Bisnis
Jurusan Manajemen & Bisnis
Program Studi Manajemen