
BABELEKSPOS.COM – Di jaman ketika hidup kita dipenuhi layar mulai dari bangun tidur sampai sebelum terlelap hadir tren yang tampaknya berlawanan arus: berkebun. Aktivitas yang dulu identik dengan halaman luas dan tangan penuh tanah kini justru berkembang di apartemen dan kamar sempit di tengah kota. Tanaman bukan lagi sekadar penghias ruangan, tapi bagian dari gaya hidup baru yang dikenal sebagai plant parenting.
Mengurus tanaman menawarkan sesuatu yang jarang kita temukan dalam dunia digital: proses yang lambat dan nyata. Kita tidak bisa mempercepat pertumbuhan daun seperti mempercepat video, tidak bisa menyuruh algoritma membuat tunas baru. Semua berlangsung sesuai ritme alam—dan justru di situlah letak ketenangannya. Di balik menyiram dan memeriksa daun, ada momen kecil yang membantu kita bernapas lebih dalam, menjeda sejenak dari ritme yang membuat lelah.
Media sosial punya peran besar dalam meledaknya tren ini. Instagram dan TikTok dipenuhi konten tanaman hias berpose cantik dengan pencahayaan dramatis. Kebun kecil jadi background unggah foto, sementara aplikasi perawatan tanaman memberi pengingat dan analisis. Tanaman bukan hanya hidup di potnya, tapi juga di dunia maya—bagian dari citra diri penggunanya.
Meski begitu, tren ini tak luput dari sisi gelap. Harga beberapa tanaman sempat melonjak gila-gilaan, seolah daun tertentu punya status sosial sendiri. Ada pula rasa gagal ketika tanaman mati—seakan kita tidak layak menjadi “orang tua tanaman”. Padahal, tanaman memerlukan lebih dari estetika: mereka butuh komitmen.
Namun manfaatnya tak perlu diragukan. Tanaman membantu meningkatkan kualitas udara, menurunkan stres, dan mengembalikan sedikit koneksi kita dengan alam. Di tengah beton, kabel, dan Wi-Fi, satu pot tanaman bisa menjadi pengingat sederhana bahwa kehidupan tetap punya akar.
Pada akhirnya, berkebun di era digital bukan sekadar tren, tapi kebutuhan: kebutuhan untuk kembali merasa terhubung, untuk memegang kehidupan yang benar-benar tumbuh—bukan hanya yang berada di balik layar. Menanam tanaman adalah menanam jeda, menanam ketenangan, dan mungkin… menanam harapan.
Sumber:
Sahril
NIM: 2122511024
Mata Kuliah: Bahasa Indonesia.
Dosen Pengampu:
1. Lasmi Hartati, M.Pd
2. Wilda Afriani, S.S., M.Pd.
Program Studi: S1 Agribisnis
Fakultas Pertanian Perikanan dan Kelautan
Universitas Bangka Belitung
Tidak ada komentar