
BABELEKSPOS.COM, JAKARTA – Hari pertama Asia Nuclear Business Platform 2025 menjadi panggung bagi seruan kuat Matt Wilkinson, CEO Thorcon International, kepada para pembuat kebijakan dan pemimpin industri di Asia Tenggara untuk “mengambil keputusan yang benar dalam dekade yang paling menentukan bagi masa depan energi kawasan.” Konferensi yang diselenggarakan oleh Dewan Energi Nasional ini menghadirkan regulator, peneliti, investor, dan pelaku industri dari seluruh dunia untuk membahas rencana aksi nuklir ASEAN.
Dalam pidato pembukanya, Matt mengingatkan bahwa dua puluh tahun terakhir menunjukkan pencapaian luar biasa, tetapi juga sinyal bahaya. “Antara 2000 dan 2020, dunia berhasil mengangkat lebih dari satu miliar orang keluar dari kemiskinan ekstrem. Ini pencapaian terbesar dalam sejarah manusia modern,” katanya. “Namun, data terbaru menunjukkan tren itu kini berbalik. Dan pada saat yang sama, konsentrasi CO₂ terus naik pada laju tercepat yang pernah kita catat.”
Ia memperingatkan bahwa kombinasi peningkatan kemiskinan dengan tekanan lingkungan merupakan pola historis yang selalu melahirkan instabilitas. “Sejarah memberi peringatan yang jelas. Ketika kesejahteraan menurun dan beban lingkungan meningkat bersamaan, masyarakat menjadi rapuh. Kita pernah melihat ini, dan kita harus belajar darinya.”
Menurut Matt, kebutuhan mendesak dunia adalah energi yang berlimpah, terjangkau, dan stabil. Ia menyampaikan kritik keras terhadap asumsi bahwa angin dan surya dapat menyelesaikan seluruh masalah energi global. “Investasi yang masuk sudah luar biasa besar, tetapi kontribusinya masih sekitar tiga persen dari energi primer global. Bukan karena teknologinya buruk, tetapi karena fisika tidak bisa dinegosiasikan,” ujarnya. “Densitas energi rendah, intermitensi, dan kebutuhan material besar tidak akan berubah hanya karena kita berharap demikian.”
Matt menegaskan bahwa teknologi nuklir baru merupakan satu-satunya solusi yang realistis untuk menyediakan listrik bersih dalam skala besar. “Jika kita ingin energi berlimpah dan rendah emisi, pilihannya sangat terbatas,” katanya. “Kita membutuhkan nuklir generasi baru, yang lebih aman, lebih cepat dibangun, dan dapat diproduksi seperti produk manufaktur, bukan proyek konstruksi unik yang memakan waktu belasan tahun.”
Indonesia, menurutnya, berada pada momentum penting. Ia memuji langkah pemerintah dalam penataan regulasi nuklir selama dua tahun terakhir. “Saya melihat sesuatu yang istimewa di Indonesia,” kata Matt. “Regulasi yang sedang dirumuskan bukan soal melonggarkan standar, tetapi menyelaraskan aturan dengan fisika dan rekayasa modern. Ini hal yang sangat sedikit dilakukan negara lain, dan Indonesia mengambil posisi yang tepat.”
Ia juga menantang negara negara ASEAN untuk berani memimpin. “ASEAN tidak harus menjadi pengikut,” ujarnya. “Kawasan ini bisa menjadi contoh dunia tentang bagaimana menyediakan energi bersih yang benar benar mampu menopang pusat data, industri baja, industri semen, transportasi listrik, dan modernisasi pedesaan.”
Kepada investor dan lembaga keuangan, Matt menyampaikan pesan tegas. “Permintaan energi ASEAN akan meningkat hingga tiga kali lipat pada 2050. Ini bukan sekadar proyeksi, ini kebutuhan ekonomi. Dan teknologi yang mampu memenuhi lonjakan itu sambil tetap menjaga emisi rendah hanya satu, yakni nuklir maju,” katanya. “Jika kita berhasil mengambil keputusan yang tepat dalam dekade ini, kita akan dikenang sebagai generasi yang membuka jalan menuju stabilitas dan kemakmuran. Jika tidak, miliaran orang akan tetap terjebak dalam kemiskinan energi.”
Sebagai salah satu sponsor utama ANBP 2025, Thorcon memanfaatkan forum ini untuk menegaskan kemajuan proyek PLTN generasi baru yang tengah dikembangkan di Indonesia. “Kami hadir bukan untuk membicarakan konsep, tetapi untuk membangun pembangkit yang nyata,” ujar Matt dalam salah satu sesi diskusi terpisah.
Operasional Thorcon di Indonesia dijalankan oleh PT Thorcon Power Indonesia, yang berdiri pada 2021 dan kini memimpin pengembangan TMSR 500, reaktor molten salt berkapasitas 500 MWe. Reaktor ini dirancang dengan fitur keselamatan inheren yang memungkinkan sistem berhenti otomatis ketika suhu meningkat, tanpa campur tangan operator. “Keselamatan berbasis fisika adalah fondasi desain kami,” kata Matt. “Ketika fisika bekerja untuk Anda, tidak ada skenario di mana operator harus menyelamatkan reaktor. Reaktornya yang menyelamatkan dirinya sendiri.”
Thorcon menargetkan penyelesaian prototipe non nuklir skala penuh dan demonstrasi teknologi dalam beberapa tahun ke depan, sejalan dengan target pemerintah untuk menghadirkan PLTN pertama Indonesia pada awal 2030an. Perusahaan juga menekankan komitmennya membangun rantai pasok nasional dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia sebagai bagian dari strategi jangka panjang industri nuklir Indonesia. (rel)